
Internasional,Malukuintprize— Ancaman panas ekstrem akibat fenomena El Niño diperkirakan memberikan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat dunia. Climate Impact Lab (CIL), kelompok riset iklim yang berafiliasi dengan University of Chicago, Amerika Serikat, memproyeksikan sekitar 451.000 kematian tambahan akibat panas ekstrem secara global pada periode Juni 2026 hingga Februari 2027.
Proyeksi tersebut disampaikan Climate Impact Lab dalam laporan berjudul “More than 451,000 Heat Deaths Projected from Super El Niño”, yang dipublikasikan pada 23 September 2026. Laporan itu mengidentifikasi berbagai wilayah yang diperkirakan menghadapi risiko kematian akibat peningkatan suhu ekstrem selama berlangsungnya El Niño.
Climate Impact Lab berkantor di University of Chicago dengan alamat 1126 E. 59th St., Chicago, IL 60637, Amerika Serikat. Selain alamat tersebut, Climate Impact Lab Inc. juga mencantumkan alamat fisik di 1714 Franklin St. #100-405, Oakland, CA 94612, Amerika Serikat.
Dalam laporannya, Climate Impact Lab menyatakan bahwa angka 451.000 kematian merupakan proyeksi tambahan, bukan jumlah kematian yang telah tercatat. Angka tersebut merupakan estimasi kematian akibat hari-hari dengan suhu ekstrem selama sembilan bulan pertama periode El Niño, dibandingkan dengan kondisi tahun normal.
Dampak tersebut diperkirakan tidak tersebar secara merata. Climate Impact Lab menyebut negara-negara di Global South berpotensi menanggung sebagian besar dampak karena tingkat kerentanan terhadap panas ekstrem dan kapasitas adaptasi yang berbeda-beda.
Untuk Indonesia, Climate Impact Lab memproyeksikan sekitar 19.300 kematian tambahan akibat panas dalam periode enam bulan September 2026 hingga Februari 2027. Angka tersebut menjadi bagian dari proyeksi global dan tidak berarti 19.300 kematian telah terjadi atau merupakan angka yang pasti akan terjadi.
Selain Indonesia, laporan tersebut memproyeksikan sekitar 66.800 kematian tambahan di kawasan Sahel Afrika selama enam bulan ke depan. Nigeria diproyeksikan mengalami sekitar 31.400 kematian tambahan, Sudan 17.500, Niger 10.000 dan Chad sekitar 8.000.
Di Asia Tenggara, tambahan kematian akibat panas di Filipina, Vietnam, Thailand dan Kamboja secara bersama-sama diproyeksikan mencapai sekitar 19.400 orang. Sementara India diproyeksikan mengalami sekitar 15.800 kematian tambahan dan Brasil sekitar 13.300 kematian tambahan akibat panas yang berkaitan dengan El Niño.
Climate Impact Lab menjelaskan bahwa fenomena El Niño tahun ini berpotensi menjadi sangat kuat dan berlangsung bersamaan dengan kondisi pemanasan global. Dalam analisisnya, peningkatan suhu tersebut diperkirakan menyebabkan jumlah hari dengan panas ekstrem menjadi sekitar 44 persen lebih banyak dibandingkan tahun normal.
Para peneliti menekankan pentingnya langkah kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko. Sistem peringatan dini, pusat pendinginan, peningkatan kesiapan fasilitas kesehatan serta perlindungan bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan disebut sebagai sejumlah langkah adaptasi yang dapat membantu menekan kematian akibat panas ekstrem.
Climate Impact Lab juga menyatakan bahwa proyeksi tersebut akan diperbarui seiring perkembangan El Niño dan tersedianya informasi temperatur terbaru. Karena itu, angka 451.000 maupun 19.300 harus dipahami sebagai hasil pemodelan ilmiah dan estimasi risiko, bukan data kematian aktual.
Dengan demikian, laporan Climate Impact Lab menjadi peringatan mengenai potensi dampak kesehatan dari kombinasi El Niño dan pemanasan global. Bagi negara-negara tropis seperti Indonesia, peningkatan kesiapsiagaan menghadapi suhu ekstrem menjadi salah satu aspek penting dalam menghadapi risiko iklim dalam beberapa bulan mendatang. (Redaksi)
