Lumapelu, Malukuintprize— Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai menjadi perhatian di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, menyusul kondisi musim panas berkepanjangan yang meningkatkan potensi munculnya titik api di sejumlah kawasan.
Karhutla bahkan dilaporkan menyasar kawasan Kelompok Perhutanan Sosial (PS) di sejumlah wilayah Kabupaten SBB.
Berdasarkan pantauan media ini, pada Minggu (20/9/2026), Karhutla terjadi di kawasan Kelompok Perhutanan Sosial di Desa Kawa, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten SBB.
Sehari kemudian, Senin (21/9/2026), titik api kembali terlihat di kawasan Kelompok Perhutanan Sosial Desa Lumapelu, Kecamatan Taniwel Timur.
Di lokasi tersebut, api terlihat membakar pepohonan berukuran kecil serta tanaman merambat yang berada di antara pepohonan besar.
Menyikapi kondisi tersebut, Kelompok Lembaga Pengelola Hutan Desa (LHPD) Lumapelu langsung bergerak melakukan pemadaman secara manual.
Langkah cepat itu dilakukan untuk mencegah api menjalar dan meluas ke bagian lain kawasan hutan.
Aksi pemadaman dilakukan bersama Pendamping Mandiri George Rudolf Patutetuy, Ketua Kelompok Robinzors Kalaimena, serta anggota kelompok, masing-masing Santoni Sitania, Yapet Wanuwele, Victor Manuhuttu dan Noce Oitha.
Mereka tidak hanya melakukan pemadaman pada saat menemukan titik api. Untuk memastikan api benar-benar terkendali, kelompok tersebut bahkan rela menginap selama dua hari di dalam kawasan hutan.
Dengan peralatan seadanya dan dilakukan secara manual, mereka terus memantau kondisi kawasan sekaligus mengeliminasi titik-titik api yang masih berpotensi menyala kembali.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan kawasan hutan yang menjadi bagian dari wilayah Perhutanan Sosial Desa Lumapelu.
Perwakilan PT PATTI di Ambon, Ongky Respit, mengatakan penanganan Karhutla tidak dapat hanya mengandalkan satu pihak. Menurutnya, diperlukan keterlibatan pemerintah, aparat keamanan, pemerintah kecamatan dan desa, dunia usaha serta masyarakat.
“Penanganan Karhutla membutuhkan sinergi antara Pemerintah Daerah, aparat keamanan, Pemerintah Kecamatan dan Desa, serta dunia usaha dan masyarakat untuk memperkuat respons apabila ditemukan titik api,” kata Respit.
Ia menegaskan bahwa pencegahan sejak dini menjadi langkah penting agar kebakaran tidak berkembang dan meluas ke kawasan lainnya.
“Pencegahan Karhutla secara dini supaya tidak meluas akan berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat serta aktivitas sosial dan ekonomi,” tambahnya.
Upaya yang dilakukan LHPD Lumapelu menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat di sekitar kawasan hutan menjadi bagian penting dalam mendeteksi dan menangani titik api sejak dini.
Dengan kondisi cuaca yang kering dan potensi kebakaran yang meningkat, kewaspadaan serta koordinasi antar-pihak diperlukan agar kebakaran hutan dan lahan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas. (Redaksi)

