WALI KOTA AMBON SU LIA KORBAN KONFLIK PATAHUWE, MASYARAKAT SBB: “DANGKE BANYA KAKA BODEWIN”

Ambon,Malukuinteprize— Kepedulian Pemerintah Kota Ambon terhadap warga terdampak konflik di Dusun Patahuwe, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), mendapat apresiasi dari masyarakat. Bantuan tersebut dinilai bukan sekadar bantuan sosial, tetapi merupakan wujud nyata semangat orang basudara dan gandong di Maluku.

Tokoh Masyarakat SBB, Marsel Maspaitella, S.H., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena serta jajaran Pemerintah Kota Ambon yang telah memberikan perhatian kepada masyarakat Patahuwe yang sedang menghadapi masa sulit.

“Dangke banya Kaka Bodewin. Kaka su lia katong pung basudara di Patahuwe yang sedang susah. Ini bukan cuma soal bantuan, tetapi soal rasa kemanusiaan dan kepedulian sebagai orang basudara,” ujar Marsel.

Menurutnya, ada hal yang sangat berarti dari kepedulian Pemerintah Kota Ambon tersebut. Masyarakat Patahuwe bukan masyarakat yang berada dalam wilayah administratif Kota Ambon. Namun, batas kewenangan pemerintahan tidak menjadi penghalang bagi Pemerintah Kota Ambon untuk hadir membantu warga yang sedang mengalami musibah.

“Memang Patahuwe bukan masyarakat Kota Ambon. Secara kewenangan pemerintahan, Patahuwe berada di Kabupaten Seram Bagian Barat. Tetapi Kaka Bodewin tidak melihat itu sebagai batas untuk membantu. Karena katong ini orang sudara, orang gandong. Kalau basudara pung rumah terbakar dan dong harus mengungsi, katong tidak bisa tinggal diam,” tegasnya.

Marsel menilai kepedulian tersebut menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan dapat melampaui batas-batas administratif pemerintahan.

“Ini sebuah tindakan kemanusiaan yang patut diapresiasi. Patahuwe memang bukan bagian dari wilayah administrasi Kota Ambon, tetapi masyarakat Patahuwe adalah bagian dari keluarga besar Maluku. Dalam semangat orang basudara, ketika ada saudara yang mengalami musibah, kita tidak boleh bertanya terlebih dahulu soal batas kewenangan,” katanya.

Menurut Marsel, pemerintah memang memiliki batas kewenangan berdasarkan wilayah administrasi. Namun, dalam situasi kemanusiaan, kepedulian dan solidaritas antarsesama masyarakat Maluku dapat menjadi jembatan untuk memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan.

“Kaka Bodewin dan Pemkot Ambon su menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan tidak boleh dibatasi oleh garis administrasi. Ini bukan soal Patahuwe masyarakat siapa, ini soal basudara yang sedang mengalami musibah dan membutuhkan uluran tangan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, konflik kemanusiaan yang terjadi di Dusun Patahuwe beberapa waktu lalu menyebabkan sedikitnya 27 rumah warga terbakar. Sebanyak 41 kepala keluarga atau 142 jiwa harus meninggalkan rumah mereka dan mengungsi di Desa Taniwel.

Marsel mengatakan, kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga meninggalkan beban psikologis bagi warga, terutama anak-anak dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

“Ketika ada 27 rumah terbakar dan 41 kepala keluarga atau 142 jiwa harus mengungsi, yang mereka butuhkan bukan hanya bantuan material. Mereka juga membutuhkan perhatian, dukungan moral dan kepastian bahwa masih ada basudara yang peduli terhadap mereka,” tutur Marsel.

Ia berharap solidaritas seperti yang ditunjukkan Pemerintah Kota Ambon dapat diikuti oleh berbagai pihak lainnya.

“Katong berharap semakin banyak basudara, pemerintah, organisasi, dunia usaha dan masyarakat umum yang ikut membantu. Jangan biarkan masyarakat Patahuwe merasa ditinggalkan setelah konflik. Mereka membutuhkan proses pemulihan yang panjang,” katanya.

Marsel juga menekankan pentingnya perhatian terhadap anak-anak yang terdampak konflik.

“Anak-anak harus menjadi perhatian utama. Dong harus bisa kembali sekolah, mendapatkan rasa aman dan tidak terus hidup dalam trauma akibat konflik. Pemulihan kemanusiaan harus menjadi bagian penting setelah konflik,” jelasnya.

Ia mengajak masyarakat Maluku untuk menjadikan kepedulian tersebut sebagai momentum memperkuat kembali nilai pela, gandong dan hidup orang basudara.

“Dangke banya Kaka Bodewin Wattimena. Walaupun dong bukan masyarakat Kota Ambon, Kaka su datang lia dong sebagai orang sudara. Ini bentuk kepedulian yang melampaui batas kewenangan, hanya karena katong pung rasa sebagai orang basudara,” pungkas Marsel Maspaitella. ( Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *