Konflik Lisabata-Patahuwe Memanas, Tokoh Muda SBB Pertanyakan Kinerja Aparat

SBB,Malukuinterprize — Ketegangan antara warga Desa Lisabata dan Desa Patahuwe, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), kembali memanas. Situasi tersebut bahkan berujung pada pembakaran rumah warga Desa Patahuwe.

Berdasarkan informasi dalam laporan yang diterima, kejadian bermula sekitar pukul 14.00 WIT ketika terjadi kebakaran di area kebun milik salah seorang warga Lisabata yang berada di wilayah Tanjung, Dusun Sisiulu, Desa Nuniali, Kecamatan Taniwel.

Warga Desa Patahuwe kemudian mendatangi lokasi untuk membantu melakukan pemadaman. Namun, setelah warga Patahuwe kembali ke desanya, situasi dilaporkan kembali memanas.

Sekitar pukul 16.00 WIT, sempat terjadi konsentrasi massa dari kedua pihak. Melalui koordinasi unsur Muspika Taniwel, warga Desa Lisabata kemudian kembali ke wilayahnya sehingga situasi untuk sementara dapat dikendalikan.

Namun, ketegangan kembali terjadi sekitar pukul 18.55 WIT. Situasi tersebut kemudian berujung pada pembakaran rumah warga Desa Patahuwe.
Aparat keamanan selanjutnya mengambil langkah pengamanan dengan melakukan penyekatan dan penjagaan di sejumlah titik guna mencegah massa dari kedua pihak kembali bertemu.

Penjagaan juga diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan keamanan serta memberikan perlindungan kepada masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik.

Meski demikian, langkah pengamanan aparat kini menjadi sorotan tokoh muda Seram Bagian Barat, Mario Kakisina.

Mario mempertanyakan efektivitas pengamanan yang dilakukan aparat penegak hukum, baik kepolisian maupun TNI, di lokasi konflik.

Menurutnya, keberadaan aparat di lokasi seharusnya mampu mencegah eskalasi dan melindungi masyarakat, terutama ketika situasi sudah menunjukkan tanda-tanda ketegangan.

“Bayangkan ada aparat, tetapi pembakaran masih terus berlanjut. Ini yang menjadi pertanyaan kami. Bagaimana proses pengamanan yang dilakukan aparat di lokasi konflik?” ujar Mario.

Ia menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap pola pengamanan di lapangan, termasuk bagaimana aparat melakukan pemetaan titik rawan, penyekatan massa, hingga langkah pencegahan sebelum terjadi aksi kekerasan.

Mario menegaskan, kritik tersebut bukan dimaksudkan untuk menyudutkan aparat, melainkan sebagai bentuk keprihatinan terhadap keselamatan warga dan efektivitas penanganan konflik.

“Kalau aparat sudah berada di lokasi, masyarakat tentu berharap situasi bisa dikendalikan dan warga yang tidak terlibat dapat benar-benar dilindungi,” katanya.

Ia juga meminta seluruh pihak menahan diri dan tidak melakukan tindakan provokatif yang dapat memperbesar konflik.

Menurut Mario, penyelesaian persoalan antara kedua desa tidak cukup hanya dengan pendekatan keamanan. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh adat, tokoh agama, serta tokoh masyarakat perlu duduk bersama mencari akar persoalan dan membangun mekanisme penyelesaian yang dapat diterima kedua pihak.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat informasi lebih lanjut mengenai jumlah rumah yang terbakar, korban maupun kerugian akibat kejadian tersebut. Informasi mengenai penyebab pasti dan pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran juga masih perlu menunggu hasil penyelidikan aparat berwenang.

Situasi di wilayah konflik diharapkan tetap terkendali sehingga tidak terjadi aksi susulan yang dapat merugikan masyarakat dari kedua desa. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *