“Jang Pernah Lupa Tanah Maluku” Ulu Kora Menggema di Eropa, Totaal Moluks Hadirkan Dokumen untuk Generasi Anak Maluku

Belanda, Malukuinterprize— Ribuan kilometer jauhnya dari Tanah Maluku, sebuah pesan sederhana kembali menggema dari Eropa. “Di mana pun katong berada, jang pernah lupa Tanah Maluku.” Kalimat itu mungkin singkat, tetapi bagi anak-anak Maluku yang lahir dan tumbuh jauh dari tanah leluhur, pesan tersebut memiliki arti yang begitu dalam.

Di Belanda dan berbagai negara Eropa, banyak anak Maluku tumbuh tanpa pernah melihat langsung kampung halaman opa dan oma mereka. Mereka mungkin belum pernah berjalan di jalanan Ambon, belum pernah menyaksikan langsung hamparan laut Maluku, belum pernah bermain di halaman negeri leluhur, bahkan belum pernah menginjakkan kaki di tanah yang selama ini hanya mereka kenal melalui cerita keluarga. Namun, Maluku tetap hidup di dalam diri mereka.

Maluku hidup dalam cerita yang disampaikan opa dan oma. Maluku hidup dalam nama keluarga yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Maluku hidup dalam bahasa yang masih terdengar di dalam rumah, dalam lagu-lagu yang dinyanyikan saat keluarga berkumpul, dalam musik yang membuat hati orang tua kembali teringat kepada kampung halaman, dan dalam makanan yang membawa kenangan tentang rumah yang jauh.

Karena itu, momentum peresmian Monumen Nasional Ulu Kora di Rotterdam bukan sekadar sebuah peristiwa sejarah bagi masyarakat Maluku di Belanda. Lebih dari itu, monumen tersebut menjadi pengingat tentang perjalanan panjang leluhur dan sebuah pesan untuk generasi muda agar mereka tidak kehilangan hubungan dengan sejarah keluarganya.

Melalui dokumentasi yang dihadirkan oleh Totaal Moluks, cerita tentang perjalanan tersebut kembali dibawa kepada generasi yang mungkin tidak mengalami langsung sejarah panjang leluhur mereka menuju Belanda. Totaal Moluks merupakan organisasi media dan komunitas Maluku di Belanda yang aktif mengangkat bahasa, budaya, sejarah dan identitas masyarakat Maluku. Organisasi tersebut dipimpin oleh Estelle Manusiwa sebagai Voorzitter atau Ketua, dengan Yakima van Tol sebagai Sekretaris dan Pieter Kaya sebagai Bendahara.

Melalui dokumentasi, program komunitas dan berbagai kegiatan budaya, Totaal Moluks berupaya agar sejarah masyarakat Maluku tidak berhenti bersama generasi pertama. Sebab suatu hari nanti, anak-anak Maluku akan mulai bertanya kepada orang tua mereka, kepada opa dan oma mereka, tentang siapa mereka dan dari mana keluarga mereka berasal.

Mungkin suatu hari seorang anak akan bertanya, “Opa, Oma, Maluku itu seperti apa?”Tutur Ester Manusiwa

Pertanyaan sederhana itu menyimpan sesuatu yang besar. Sebab jawaban tentang Maluku tidak hanya terletak pada peta atau nama sebuah provinsi yang berada jauh di Indonesia. Maluku adalah rumah dalam ingatan. Maluku adalah cerita tentang leluhur. Maluku adalah bahasa yang mungkin perlahan mulai terlupakan, tetapi masih dapat dipelajari kembali. Maluku adalah lagu yang membuat hati terasa dekat dengan rumah meskipun jarak memisahkan ribuan kilometer.

Monumen Ulu Kora yang berdiri di Rotterdam menjadi salah satu simbol dari perjalanan tersebut. Monumen itu berada jauh dari Tanah Maluku, tetapi makna yang dibawanya justru menghubungkan generasi masa kini dengan tanah yang menjadi asal-usul leluhur mereka.

Bagi seorang anak Maluku yang lahir di Belanda, mungkin Maluku selama ini hanya hadir dalam cerita. Namun melalui dokumentasi, sejarah dapat kembali dilihat. Melalui cerita keluarga, sejarah dapat didengar. Melalui bahasa dan budaya, sejarah dapat dirasakan. Dan melalui ingatan yang terus diwariskan, Maluku dapat tetap hidup.

Totaal Moluks melalui dokumentasi yang dihadirkannya mengambil bagian dalam perjalanan penting tersebut. Dokumentasi bukan hanya sekadar rekaman sebuah kegiatan. Di dalamnya terdapat wajah-wajah, suara, cerita dan kenangan yang suatu hari nanti dapat kembali dilihat oleh anak-anak Maluku dan generasi berikutnya.

Mungkin hari ini mereka belum memahami seluruh perjalanan sejarah keluarganya. Mungkin hari ini mereka belum mengerti mengapa opa dan oma terkadang menyebut Maluku dengan mata yang berkaca-kaca. Namun suatu hari nanti, mereka akan mengerti bahwa ada perjalanan panjang di balik keberadaan keluarga mereka di negeri yang jauh.

Mereka akan memahami bahwa sebelum mereka lahir, ada generasi yang membawa cerita Maluku melintasi lautan. Ada orang-orang yang meninggalkan tanah leluhur dengan membawa kenangan, membawa nama keluarga, membawa bahasa, budaya dan harapan agar anak-anak mereka kelak dapat hidup dengan masa depan yang lebih baik.

Dan ketika mereka mulai mencari tahu dari mana mereka berasal, mereka akan menemukan satu nama yang terus hidup dalam perjalanan keluarga mereka.

Lautan mungkin memisahkan Maluku dengan Belanda. Jarak ribuan kilometer mungkin membuat banyak anak Maluku lahir dan tumbuh tanpa pernah melihat tanah leluhur mereka. Waktu pun terus berjalan dan generasi terus berganti. Tetapi identitas tidak harus hilang.

Ester Manusiwa Menjelaskan, Selama seorang anak masih mendengar cerita tentang leluhurnya, selama nama keluarga masih diwariskan, selama bahasa masih ingin dipelajari, selama budaya masih ingin dijaga dan selama Maluku masih disebut dengan rasa bangga, maka hubungan itu tidak akan pernah benar-benar putus.

Dari Rotterdam, pesan Ulu Kora kembali menyeberangi lautan. Pesan itu bukan hanya untuk generasi tua yang masih mengingat kampung halaman. Pesan itu juga untuk anak-anak Maluku yang mungkin belum pernah melihat Tanah Maluku.

Kalau suatu hari nanti mereka bertanya dari mana mereka berasal, ingatlah bahwa ada satu tanah yang menjadi bagian dari cerita keluarga mereka. Tanah itu mungkin jauh. Tanah itu mungkin belum pernah mereka datangi. Tetapi Tanah Maluku tetap hidup dalam cerita leluhur mereka.

Dan dari Eropa, sebuah pesan sederhana kembali dikirimkan kepada seluruh generasi anak Maluku di mana pun mereka berada.

“Di mana pun katong lahir. Di mana pun katong besar. Sejauh apa pun katong berjalan… jang pernah lupa Tanah Maluku.”tandasnya (Redaksi) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *